Kamis, 10 November 2022

Retorika Puisi Koma karya Joko Pinurbo

 

Gaya retorika adalah sebuah gaya atau cara yang digunakan oleh penulis dalam menulis yang akan berdampak pada cara ia menyampaikan pesan kepada pembaca. Gaya retorika berkaitan dengan keindahan yang membuat pembaca berkesan yang menjadi daya Tarik tersendiri. Retorika akan tersampaikan dengan baik jika seorang penulis menyampaikannya dengan bahasa yang jelas, sehingga mudah dipahami. Gaya retorika masing-masing penulis berbeda, tergantung gaya apa yang dia pilih dan apa yang telah ia baca sebelumnya. Berikut adalah analisis retorika pada puisi Koma dalam kumpulan puisi Telepon Genggang karya Joko Pinurbo.

Joko Pinurbo telah menyatakan sendiri bahwa ia adalah penulis puisi yang suka menyampaikan puisi menggunakan model bercerita. Puisi ini sangat mencerminkan hal tersebut. Pemilihan diksi dan alur puisinya sangat unik dan lucu, berbagai hal ia kaitkan dan satukan sehingga menjadi satu kesatuan puisi yang unik, lucu, dan indah.

Bait 1

Menjelang dini hari pengarang itu mati.

Kepalanya terkulai di atas meja, batuknya

serasa masih menggema, sementara rokok

yang belum habis dihisapnya masih menyala

di atas asbak. Tubuhnya babak belur

sehabis semalaman duel seru melawan

komplotan kata. Duel satu lawan satu

maupun satu lawan dua, lima, sepuluh,

pokoknya banyak. Di layer komputernya tertera

tulisan: Kutunggu lagi kalian besok malam.

Boleh satu lawan satu, boleh keroyokan.

Bait pertama puisi tersebut adalah orientasi mengenai jalannya puisi. Ia memilih bahasa yang sederhana dan umum dijumapai, ehingga tidak membingungkan pembaca. Ia mengisahkan bahwa pada dini hari, seorang pengarang mati, terkuai di atas meja yang serasa batuknya masih menggema di sana. Sebelum mati, pengarang itu menyalakan rokok yang masih menyala Ketika ia sudah tiada. Memang unik, sebelum seorang mati, ia masih sempat menghisap rokok.

Kematian pengarang tersebut dikisahkan oleh Joko Pinurbo secara lengkap. Ia mengisahkan bahwa pengarang itu memiliki mental yang kuat. Meskipun kalah, ia masih berani menantang komplotan kata untuk duel di hari selanjutnya, bahkan ia berani jika dikeroyok. Bait ini mengajarkan bahwa seseorang harus memiliki mental yang kuat dalam menghadapi banyak masalah.

Bait 2

Besoknya ia datang lagi ke gelanggang.

Ia pikir malam itu ia akan berhadapan

dengan komplotan kata yang lebih tangguh.

Ternyata cuma ditantang sebuah koma

yang berani-beraninya muncul sendirian.

Ah, itu sih kecil. Sekali pukul saja pasti terpental.

Puisi Jokpin memang unik. Meskipun ia mengisahkan pengarang itu mati, tetapi pada bait kedua, pengarang yang mati itu dikisahkan kembali kegelanggang. Pengarang yang berharap akan berhadapan dengan komplotan kata, ternyata dikejutkan dengan sebuah koma yang menantangnya sendirian. Pengarang pun dengan meremehkan koma, siap bertarung.

 

Bait 3

Ia salah duga. Koma ternyata sangat perkasa.

Sudah bertarung semalam suntuk, belum juga

ia takluk. Malah makin mbeling saja.

Bukan main cerdiknya. "Belajar silat di mana, Dik?

Di sekolah ya?" tanya pengarang.

"Ah, tidak. Otodidak saja," jawab koma.

Antara mabuk dan mengantuk,

pengarang berusaha keras mengeluarkan

jurus-jurus jitu untuk melumpuhkan koma.

Sebab hanya yang mampu menguasai koma

yang layak menyebut diri jagoan.

Dan tahukah, pengarang, koma pula

yang setia menungguimu saat kau

mati menjelang dini hari?

Pengarang yang sempat meremehkan koma, kini benar-benar terkejut dengan kemampuan koma. Setelah satu malam, koma tidak kalah, tetapi malah tambah perkasa. Maksud Jokpin adalah pengarang itu semalam dalam keadaan koma (sakit). Satu malam koma tidak juga pergi, tetapi malah semakin menjadi-jadi.

Meskipun bertarung, pengarang tetap mau menyempatkan ngobrol dengan koma. Kepala boleh panas, tetapi hati harus tetap dingin. Seluruh kekuatan pengarang telah dimaksimalkan. Koma itulah yang menemani pengarang ketika mati (tidak sadar). Artinya pengarang dan koma adalah dua hal yang salig berteman/berdekatan.

 

Bait 4

Ketika pengarang terbangun dari mati,

koma memberi kabar bahwa judul

sedang sakit sehingga tidak bisa datang.

"Dia memang tidak tahan banting. Manja."

"Lantas siapa yang menggantikannya?"

timpal pengarang. "Saya," kata koma.

Setelah sadar dari matinya, Jokpin kembali melanjutkan ceritanya mengenai judul yang tak bisa datang dan kemudian digantikan oleh koma.

 

Puisi Koma mengisahkan bahwa seorang pengarang yang bertengkar itu sebenarnya tidak sedang berkelahi, tetapi ia sedang dalam keadaan koma. Ia bersiap duel dengan komplotan kata, tetapi ia malah kalah dengan sebuah koma.

Puisi-puisi Joko Pinurbo memang memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan karya penyair lain. Ia memilih retorika bahasa yang sederhana yang dikaitkan dengan diksi yang diluar dugaan hingga menciptakan sebuah ledakan sastra.Joko Pinurbo sendiri adalah seorang penyair kelahiran Jogja. Ia termasuk dalam Angkatan era reformasi yang karya-karyanya dipengaruhi oleh bacaan-bacaannya dahulu, yaitu puisi-puisi karya Rendra, Chairil Anwar, Seno Gumira Ajidarma, dan Sapardi Djoko Damono.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar