Gaya
retorika adalah sebuah gaya atau cara yang digunakan oleh penulis dalam menulis
yang akan berdampak pada cara ia menyampaikan pesan kepada pembaca. Gaya
retorika berkaitan dengan keindahan yang membuat pembaca berkesan yang menjadi
daya Tarik tersendiri. Retorika akan tersampaikan dengan baik jika seorang
penulis menyampaikannya dengan bahasa yang jelas, sehingga mudah dipahami. Gaya
retorika masing-masing penulis berbeda, tergantung gaya apa yang dia pilih dan
apa yang telah ia baca sebelumnya. Berikut adalah analisis retorika pada puisi
Koma dalam kumpulan puisi Telepon Genggang karya Joko Pinurbo.
Joko
Pinurbo telah menyatakan sendiri bahwa ia adalah penulis puisi yang suka menyampaikan
puisi menggunakan model bercerita. Puisi ini sangat mencerminkan hal tersebut.
Pemilihan diksi dan alur puisinya sangat unik dan lucu, berbagai hal ia kaitkan
dan satukan sehingga menjadi satu kesatuan puisi yang unik, lucu, dan indah.
Bait 1
Menjelang
dini hari pengarang itu mati.
Kepalanya
terkulai di atas meja, batuknya
serasa
masih menggema, sementara rokok
yang
belum habis dihisapnya masih menyala
di
atas asbak. Tubuhnya babak belur
sehabis
semalaman duel seru melawan
komplotan
kata. Duel satu lawan satu
maupun
satu lawan dua, lima, sepuluh,
pokoknya
banyak. Di layer komputernya tertera
tulisan:
Kutunggu lagi kalian besok malam.
Boleh
satu lawan satu, boleh keroyokan.
Bait pertama puisi
tersebut adalah orientasi mengenai jalannya puisi. Ia memilih bahasa yang
sederhana dan umum dijumapai, ehingga tidak membingungkan pembaca. Ia
mengisahkan bahwa pada dini hari, seorang pengarang mati, terkuai di atas meja
yang serasa batuknya masih menggema di sana. Sebelum mati, pengarang itu
menyalakan rokok yang masih menyala Ketika ia sudah tiada. Memang unik, sebelum
seorang mati, ia masih sempat menghisap rokok.
Kematian pengarang
tersebut dikisahkan oleh Joko Pinurbo secara lengkap. Ia mengisahkan bahwa
pengarang itu memiliki mental yang kuat. Meskipun kalah, ia masih berani
menantang komplotan kata untuk duel di hari selanjutnya, bahkan ia berani jika
dikeroyok. Bait ini mengajarkan bahwa seseorang harus memiliki mental yang kuat
dalam menghadapi banyak masalah.
Bait 2
Besoknya ia datang lagi
ke gelanggang.
Ia pikir malam itu ia
akan berhadapan
dengan komplotan kata
yang lebih tangguh.
Ternyata cuma ditantang
sebuah koma
yang berani-beraninya
muncul sendirian.
Ah, itu sih kecil. Sekali
pukul saja pasti terpental.
Puisi
Jokpin memang unik. Meskipun ia mengisahkan pengarang itu mati, tetapi pada
bait kedua, pengarang yang mati itu dikisahkan kembali kegelanggang. Pengarang
yang berharap akan berhadapan dengan komplotan kata, ternyata dikejutkan dengan
sebuah koma yang menantangnya sendirian. Pengarang pun dengan meremehkan koma,
siap bertarung.
Bait 3
Ia salah duga. Koma
ternyata sangat perkasa.
Sudah bertarung semalam
suntuk, belum juga
ia takluk. Malah makin mbeling
saja.
Bukan main cerdiknya.
"Belajar silat di mana, Dik?
Di sekolah ya?" tanya
pengarang.
"Ah, tidak. Otodidak
saja," jawab koma.
Antara mabuk dan
mengantuk,
pengarang berusaha keras
mengeluarkan
jurus-jurus jitu untuk
melumpuhkan koma.
Sebab hanya yang mampu
menguasai koma
yang layak menyebut diri
jagoan.
Dan tahukah, pengarang,
koma pula
yang setia menungguimu
saat kau
mati menjelang dini hari?
Pengarang
yang sempat meremehkan koma, kini benar-benar terkejut dengan kemampuan koma.
Setelah satu malam, koma tidak kalah, tetapi malah tambah perkasa. Maksud
Jokpin adalah pengarang itu semalam dalam keadaan koma (sakit). Satu malam koma
tidak juga pergi, tetapi malah semakin menjadi-jadi.
Meskipun
bertarung, pengarang tetap mau menyempatkan ngobrol dengan koma. Kepala boleh
panas, tetapi hati harus tetap dingin. Seluruh kekuatan pengarang telah
dimaksimalkan. Koma itulah yang menemani pengarang ketika mati (tidak sadar).
Artinya pengarang dan koma adalah dua hal yang salig berteman/berdekatan.
Bait 4
Ketika pengarang
terbangun dari mati,
koma memberi kabar bahwa
judul
sedang sakit sehingga
tidak bisa datang.
"Dia memang tidak
tahan banting. Manja."
"Lantas siapa yang
menggantikannya?"
timpal pengarang.
"Saya," kata koma.
Setelah
sadar dari matinya, Jokpin kembali melanjutkan ceritanya mengenai judul yang
tak bisa datang dan kemudian digantikan oleh koma.
Puisi
Koma mengisahkan bahwa seorang pengarang yang bertengkar itu sebenarnya tidak
sedang berkelahi, tetapi ia sedang dalam keadaan koma. Ia bersiap duel dengan
komplotan kata, tetapi ia malah kalah dengan sebuah koma.
Puisi-puisi
Joko Pinurbo memang memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan
karya penyair lain. Ia memilih retorika bahasa yang sederhana yang dikaitkan
dengan diksi yang diluar dugaan hingga menciptakan sebuah ledakan sastra.Joko
Pinurbo sendiri adalah seorang penyair kelahiran Jogja. Ia termasuk dalam
Angkatan era reformasi yang karya-karyanya dipengaruhi oleh bacaan-bacaannya
dahulu, yaitu puisi-puisi karya Rendra, Chairil Anwar, Seno Gumira Ajidarma,
dan Sapardi Djoko Damono.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar