Kamis, 10 November 2022

Pragmatik yang Menarik

 Pragmatik sebagai cabang ilmu linguistik sebenarnya belum lama muncul, bahkan ada beberapa ahli linguistik yang memasukkan pragmatik ke dalam bidang ilmu semiotik. Morris (1995:50) menyatakan bahwa ilmu semiotik dibagi menjadi tiga bidang kajian, yatu sintaksis, semantik, dan pragmatik. Beberapa ahli semiotik mengkaji pragmatik sebagai sistem tanda, sedangkan beberapa ahli linguistik juga memasukkan pragmatik sebagai komponen kajian linguistik.

Semantik dan pragmatik memiliki kesamaan dalam mengkaji makna, tapi keduanya berbeda. Semantik meletakkan makna sebagai hubungan yang melibatkan dua segi (diadik) dan pragmatik meletakkan makna sebagai hubungan yang melibatkan tiga segi (triadik). Semantik mengkaji makna X (kata, frasa, klausa, dan kalmat), sedangkan pragmatik mengkaji daya tuturan: apa yang dimaksud penutur dengan mengatakan X.

Topik yang dibahas dalam pragmatik menurut Gazdar (1979) adalah aspek makna tuturan yang tak bisa diterapkan dengan referensi langsung ke kondisi-kondisi nyata kalimat yang dituturkan. Arti yang diucapkan oleh penutur dapat diterima oleh lawan tutur tergantung pada konteks. Sejalan dengan pendapat Gazdar, Heatherington (1980) menyatakan bahwa pragmatik membahas tindak tutur dalam situasi khusus dan memusatkan perhatian pada aneka ragam cara yang merupakan wadah aneka konteks sosial, performansi bahasa dapat memengaruhi tafsiran dan interpretasi. Performansi yang dimaksud di sini adalah pengaruh dari fonem suprasegmental, dialek, register, dan keragaman konvensi sosial.

Contoh kasus pragmatik adalah ketika seseorang berkata kepada ayahnya, “Besok pagi batas terakhir pembayaran UKT, Pak.”

Kalimat pemberitahuan tersebut tidak sekedar seorang penutur hanya menyampaikan batas pembayaran UKT, tetapi lebih mengarah bahwa penutur tersebut meminta uang untuk membayar UKT dengan segera, karena batasnya sudah mepet.

Contoh lain. “Coba hitung ada berapa pemain dalam permainan bola voli?”

Kalimat tersebut tidak menuntut seseorang untuk pergi ke lapangan voli dan mengitung berapa pemain voli setiap tim di lapangan. Kalimat tersebut dapat bermanka bahwa penutur ingin bertanya berapa pemain dalam permainan bola voli. Lawan tutur pun tidak harus pergi ke lapangan, tetapi cukup mencari informasi melalui gawai atau buku yang dapat dijasikan referensi.

Sumber

Yuliantoro, A. (2020). Analisis Pragmatik. Klaten: UNWIDHA Press.

Soe Hok Gie: Cinta pada Keberanian Hidup melalui Mandalawangi Pangrango

 

Sebagai aktivis mahasiswa dengan jima muda yang menggelora, seseorang membutuhkan sarana untuk menyepi dari keramaian kota. Itulah yang dilakukan oleh Soe Hok Gie yang gemar mendaki berbagai gunung yang ada di Jawa. Ia telah mendaki banyak gunung, seperti Gede, Pangrango, Slamet, hingga Semeru yang akhirnya merenggut nyawanya.

Hok Gie sangar mencintai indah dan sepinya gunung. Mendaki dapat membuatnya mengenal Indonesia lebih dekat. Keberanian hidup juga diuji ketika menaiki gunung. Melalui puisinya yang berjudul Mandalawangi-Pangrango, ia menuangkan seluruh perasaan cintanya pada tempat favoritnya, yaitu lembah Mandalawangi.

Senja gunung memang indah dengan paduan kabut, sepi, dan dingin yang ada. Banyak orang yang berbicara tentang manfaat dan guna mengenai dunia dan isinya, tetapi cinta dan keindahan adalah sisi lain yang hebat untuk dinikmati.

Tidak ada masalah politik, polusi, kekuasaan, dan masalah dunia di gunung. Seorang pendaki akan tenang bersama alam. hanya ada sepi dan keindahan di sana. Indahnya alam membuat seseorang melihat Indonesia dari sudut lain.

Perjalanan dalam hajat pendakian juga mengajarkan pendaki mengenai Indonesia. Jika di kota sering diperlihatkan masyarakat kota yang penuh keruwetan, maka ketika kita mendaki, kita akan bertemu dengan rakyat. Masyarakat desa yang lebih sederhana. Melihat masalah-masalah lain yang ada di sana. Dengan mendaki, maka seseorang dapat mengenal rakyat dan masalahnya lebih dekat.

Di gunung, gemercik air sungai dapat menenangkan pikiran dengan hutan yang di dalamnya menyimpan misteri, baik hewan, tumbuhan, maupun hal mistiknya. Bersama alam, kita membawa ransel-ransel walaupun kosong. Bersama api unggun yang membara kita menyatu dengan alam melampaui batas-batas hutan. Kecintaan seorang individu dengan alam adalah cinta yang bisu, tetapi begitu dalam. Ketika seseorang datang kepada alam, maka alam tersebut akan meneruma dengan baik, seperti baiknya seseorang ingin mengunjungi alam.

Alam mengajarkan manusia untuk berani. Hidup adalah masalah keberanian untuk menghadapi sebuah tanda tanya yang tidak kita ketahui ke depannya. Tantangan yang ada tidak dapat kita mengerti dan tidak bisa kita tawar. Hanya ada satu pilihan, yaitu terima dan hadapi semua tantangan dengan keberanian. Dengan mencintai alam dan masuk di dalamnya berarti kita telah cinta pada keberanian hidup.

Retorika Puisi Koma karya Joko Pinurbo

 

Gaya retorika adalah sebuah gaya atau cara yang digunakan oleh penulis dalam menulis yang akan berdampak pada cara ia menyampaikan pesan kepada pembaca. Gaya retorika berkaitan dengan keindahan yang membuat pembaca berkesan yang menjadi daya Tarik tersendiri. Retorika akan tersampaikan dengan baik jika seorang penulis menyampaikannya dengan bahasa yang jelas, sehingga mudah dipahami. Gaya retorika masing-masing penulis berbeda, tergantung gaya apa yang dia pilih dan apa yang telah ia baca sebelumnya. Berikut adalah analisis retorika pada puisi Koma dalam kumpulan puisi Telepon Genggang karya Joko Pinurbo.

Joko Pinurbo telah menyatakan sendiri bahwa ia adalah penulis puisi yang suka menyampaikan puisi menggunakan model bercerita. Puisi ini sangat mencerminkan hal tersebut. Pemilihan diksi dan alur puisinya sangat unik dan lucu, berbagai hal ia kaitkan dan satukan sehingga menjadi satu kesatuan puisi yang unik, lucu, dan indah.

Bait 1

Menjelang dini hari pengarang itu mati.

Kepalanya terkulai di atas meja, batuknya

serasa masih menggema, sementara rokok

yang belum habis dihisapnya masih menyala

di atas asbak. Tubuhnya babak belur

sehabis semalaman duel seru melawan

komplotan kata. Duel satu lawan satu

maupun satu lawan dua, lima, sepuluh,

pokoknya banyak. Di layer komputernya tertera

tulisan: Kutunggu lagi kalian besok malam.

Boleh satu lawan satu, boleh keroyokan.

Bait pertama puisi tersebut adalah orientasi mengenai jalannya puisi. Ia memilih bahasa yang sederhana dan umum dijumapai, ehingga tidak membingungkan pembaca. Ia mengisahkan bahwa pada dini hari, seorang pengarang mati, terkuai di atas meja yang serasa batuknya masih menggema di sana. Sebelum mati, pengarang itu menyalakan rokok yang masih menyala Ketika ia sudah tiada. Memang unik, sebelum seorang mati, ia masih sempat menghisap rokok.

Kematian pengarang tersebut dikisahkan oleh Joko Pinurbo secara lengkap. Ia mengisahkan bahwa pengarang itu memiliki mental yang kuat. Meskipun kalah, ia masih berani menantang komplotan kata untuk duel di hari selanjutnya, bahkan ia berani jika dikeroyok. Bait ini mengajarkan bahwa seseorang harus memiliki mental yang kuat dalam menghadapi banyak masalah.

Bait 2

Besoknya ia datang lagi ke gelanggang.

Ia pikir malam itu ia akan berhadapan

dengan komplotan kata yang lebih tangguh.

Ternyata cuma ditantang sebuah koma

yang berani-beraninya muncul sendirian.

Ah, itu sih kecil. Sekali pukul saja pasti terpental.

Puisi Jokpin memang unik. Meskipun ia mengisahkan pengarang itu mati, tetapi pada bait kedua, pengarang yang mati itu dikisahkan kembali kegelanggang. Pengarang yang berharap akan berhadapan dengan komplotan kata, ternyata dikejutkan dengan sebuah koma yang menantangnya sendirian. Pengarang pun dengan meremehkan koma, siap bertarung.

 

Bait 3

Ia salah duga. Koma ternyata sangat perkasa.

Sudah bertarung semalam suntuk, belum juga

ia takluk. Malah makin mbeling saja.

Bukan main cerdiknya. "Belajar silat di mana, Dik?

Di sekolah ya?" tanya pengarang.

"Ah, tidak. Otodidak saja," jawab koma.

Antara mabuk dan mengantuk,

pengarang berusaha keras mengeluarkan

jurus-jurus jitu untuk melumpuhkan koma.

Sebab hanya yang mampu menguasai koma

yang layak menyebut diri jagoan.

Dan tahukah, pengarang, koma pula

yang setia menungguimu saat kau

mati menjelang dini hari?

Pengarang yang sempat meremehkan koma, kini benar-benar terkejut dengan kemampuan koma. Setelah satu malam, koma tidak kalah, tetapi malah tambah perkasa. Maksud Jokpin adalah pengarang itu semalam dalam keadaan koma (sakit). Satu malam koma tidak juga pergi, tetapi malah semakin menjadi-jadi.

Meskipun bertarung, pengarang tetap mau menyempatkan ngobrol dengan koma. Kepala boleh panas, tetapi hati harus tetap dingin. Seluruh kekuatan pengarang telah dimaksimalkan. Koma itulah yang menemani pengarang ketika mati (tidak sadar). Artinya pengarang dan koma adalah dua hal yang salig berteman/berdekatan.

 

Bait 4

Ketika pengarang terbangun dari mati,

koma memberi kabar bahwa judul

sedang sakit sehingga tidak bisa datang.

"Dia memang tidak tahan banting. Manja."

"Lantas siapa yang menggantikannya?"

timpal pengarang. "Saya," kata koma.

Setelah sadar dari matinya, Jokpin kembali melanjutkan ceritanya mengenai judul yang tak bisa datang dan kemudian digantikan oleh koma.

 

Puisi Koma mengisahkan bahwa seorang pengarang yang bertengkar itu sebenarnya tidak sedang berkelahi, tetapi ia sedang dalam keadaan koma. Ia bersiap duel dengan komplotan kata, tetapi ia malah kalah dengan sebuah koma.

Puisi-puisi Joko Pinurbo memang memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan karya penyair lain. Ia memilih retorika bahasa yang sederhana yang dikaitkan dengan diksi yang diluar dugaan hingga menciptakan sebuah ledakan sastra.Joko Pinurbo sendiri adalah seorang penyair kelahiran Jogja. Ia termasuk dalam Angkatan era reformasi yang karya-karyanya dipengaruhi oleh bacaan-bacaannya dahulu, yaitu puisi-puisi karya Rendra, Chairil Anwar, Seno Gumira Ajidarma, dan Sapardi Djoko Damono.

Sabtu, 08 Februari 2020

MAMBANGUN KARAKTER ANAK MELALUI PERMAINAN DAN KEARIFAN LOKAL MENUJU INDONESIA EMAS


MAMBANGUN KARAKTER ANAK MELALUI PERMAINAN DAN KEARIFAN LOKAL MENUJU INDONESIA EMAS
Jurnal ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pembinaan dan Pengembangan Bahasa semester I



Disusun Oleh:
Aji Santoso (K1219004)




FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET 2019


MAMBANGUN KARAKTER ANAK MELALUI PERMAINAN DAN KEARIFAN LOKAL MENUJU INDONESIA EMAS
Aji Santoso
Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Sebelas Maret

ABSTRAK
Tulisan ini bertujuan untuk memberikan wawasan bagi pembaca mengenai pendidikan karakter yang saat ini menjadi salah satu program pemerintahan Presiden Joko Widodo yang dijanjikan pada kampanye menjelang pilpres tahun 2014 hingga menjadi presiden selama dua periode. Pendidikan karakter yang akan saya bahas ialah pendidikan karakter di pendidikan anak usia dini dan tingkat sekolah dasar melalui permainan dan kearifan tradisional yang sudah mulai jarang ditemukan di Indonesia. Dengan tujuan lain, jurnal ini juga akan mengenalkan dan menghidupkan aktivitas tradisional pada anak demi terwujudnya karakter pemimpin, berjiwa sosial, mandiri, dan anti korupsi menuju Indonesia Emas menjadi bangsa yang unggul, besar, maju, dan bermartabat pada tahun2045.
Kata kunci: Pendidikan Karakter, Anak, Tradisional, Indonesia Emas
1.      PENDAHULUAN
Bab pertama ini meliputi empat hal yang akan diuraikan oleh peneliti. Keempat hal tersebut, yaitu latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian

A.    Latar Belakang
Pendidikan karakter padaanak usia dini merupakan investasi bangsa, jika ingin mengembangkan bangsa Indonesia menjadi bangsa dengan nasionalisme, integritas, dan karakter yang kuat maka mulailah sejak anak usia dini. Bangsa Indonesia sedang mengalami masa transisi dari masyarakat yang serba terpimpin menjadi masyarakat demokratis. Masa transisi ini ternyata sangat berat, mahal, dan menimbulkan banyak korban. Terhitung sejak orde baru berganti, banyak terjadi demo besar-besaran disertai kerusuhan dan perusakan di berbagai daerah. Tidak jarang hal itu menelan korban jiwa. Ironis, usaha mewujudkan masyarakat yang religius, berperikemanusiaan, demokratis, adil dan sosial justru berakhir dengan kericuhan, kekerasan, dan kerusakan. Perselisihan antar etnis, ras, dan agama, serta antara pemerintah dengan masyarakat sering terjadi. Demikian pula kasus pembunuhan, bunuh diri, dan kriminalitas lainnya menyebabkan 1.4 juta orang terbunuh pada tahun 2001 (Kamanto Soenarto, dkk. 2004).
Kondisi bangsa yang serba terpuruk terbawa oleh siswa ke sekolah. Banyak siswa yang tawuran, terkena narkoba, dan berbuat anarkis. Sekolah mengalami kesulitan mendidik siswanya agar menjadi pemelajar yang gigih, mandiri, dan tak kenal lelah. Untuk itu, diperlukan pendidikan yang tidak hanya mengembangkan pengetahuan, tetapi juga pikiran yang tajam dan jernih, perilaku, tutur kata dan sikap yang anggun dan etis, serta memiliki mental baja untuk berhasil dan berprestasi yang semua itu terangkum di dalam pendidikan karakter.
 Penanaman nilai-nilai moral, sosial, intelektual, dan emosional secara terpadu merupakan isu sentral pendidikan anak usia dini. Untuk itu, diperlukan pikiran, wawasan, dan disain pendidikan karakter agar pembentukan karakter dapat dilakukan sejak usia dini.
Selain masalah pendidikan di usia dini, Berbagai fenomena sosial yang muncul akhir-akhir ini pun cukup mengkhawatirkan. Fenomena kekerasan dalam menyelesaikan masalah menjadi hal yang umum. Pemaksaan kebijakan terjadi hampir pada setiap level institusi. Manipulasi informasi menjadi hal yang lumrah. Penekanan dan pemaksaan kehendak satu kelompok terhadap kelompok lain dianggap biasa. Hukum begitu jeli pada kesalahan tetapi buta pada keadilan.
Tampaknya karakter masyarakat Indonesia yang santun dalam berperilaku, musyawarah mufakat dalam menyelesaikan masalah, local wisdom yang kaya dengan pluralitas, toleransi dan gotong royong, telah berubah wujud menjadi hegemoni kelompok-kelompok baru yang saling mengalahkan. Apakah kearifan lokal yang kita miliki seolah punah, dan hilang fungsinya dalam membentuk karakter di masyarakat.
Dalam pembahasan ini, permainan atau kegiatan tradisional dalam membangun karakter anak sangat penting. Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya fenomena perubahan aktivitas, yang lebih sering bermain permainan modern yang identik dengan penggunaan teknologi seperti video games dan games online. Akibatnya, permainan anak tradisional mulai terlupakan dan menjadi asing di kalangan anak-anak. Selain itu, tingkat kecanduan terhadap permainan modern pada anak juga tinggi sehingga berpengaruh pada kebiasaan dan perilaku anak. Tulisan berdasar studi pustaka ini menguraikan dampak yang terjadi pada anak ketika kecanduan bermain games yang berakibat pada karakter yang akan terbangun pada diri anak.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah yang akan diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut:
1)      Apa yang dimaksud pendidikan karakter?
2)      Manfaat pendidikan karakter di Indonesia sejak dini?
3)      Apa pengaruh permainan tradisional pada karakter anak?


C.    Tujuan Penelitian
   Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang dapat dijabarkan sebagai berikut:
1)      Tercapainya pendidikan karakter yang menyeluruh;
2)      Memberikan wawasan pentingnya pendidikan karakter sejak dini;
3)      Memberi pengetahuan pentingnya kegiatan dan permainan tradisional dalam pendidikan karakter;
4)      Mewujudkan generasi Indonesia Emas yang unggul.

D.    Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan diatas, maka manfaat yang diberikan sebagai berikut:
1)      Segera tercapainya pendidikan karakter yang tepat;
2)      Mendidik anak dengan karakter unggul sejak dini;
3)      Menjaga permainan dan kearifan tradisional;
4)      Menghasilkan generasi unggul menuju Indinesia Emas.


2.      LANDASAN TEORI DAN METODOLOGI
A.    Landasan Teori
Karakter adalah landasan utama membentuk manusia berkualitas. Jika kekayaan harta telah sirna, maka tidak ada yang hilang karena karakter mengutamakan kekayaan budi pekerti. Jika kesehatan yang hilang, sesuatu telah hilang karena karakter memerlukan kesehatan jiwa dan raga. Jika karakter yang hilang, segalanya telah hilang karena karakter adalah roh kehidupan.
Manusia berkualitas baik adalah manusia berkarakter yang dalam filsafat pendidikan mencakup dimensi ideografis dan dimensi nomotetis. Secara individual (ideografis) memiliki kemampuan yang dimanfaatkan dengan rambu-rambu nomotetis, yakni norma kebangsaan. Karakter merupakan pendukung utama dalam pembangunan bangsa, kata Bung Karno. Beliau (Soedarsono, 2009:46) mengatakan: “Bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter (character building). Karena character building inilah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju dan jaya serta bermartabat. Kalau character building tidak dilakukan, maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli”. Dalam perspektif filosofis dikatakan bahwa education without character, this is sins the basis for misery in the world, The essence of education is to recognize truth. Let your secular education go hand in hand with spiritual education
(Sathya, 2002:83) Pendidikan karakter dapat dilakukan dengan dua pendekatan yakni pendekatan praktis dan pendekatan esensial. Pendekatan praktis melatihkan sifat-sifat yang diharapkan menjadi perilaku peserta didik. Pendekatan esensi menyiapkan kepribadian sebagai rumahnya karakter.
Kemendikbud membuat desain pendidikan karakter dengan membuat daftar sifat-sifat yang harus diimplementasikan kepada peserta didik. Ada delapan belas sifat untuk pendidikan karakter dan sembilan sifat pendidikan anti korupsi Sukidi (2005:4) mengatakan bahwa fenomena krisis hidup (krisis karakter) tidak hanya semata-mata krisis intelektual dan moral, namun sedikit lebih dalam ke jantung peroalan bahwa krisis moral yang hampir merambah seluruh lini kehidupan kita, sebenarnya berasal dan bermuara pada krisis spiritual. Artinya krisis karakter tidak hanya sekedar kehilangan 18 sifat dan kehilangan 9 sifat seseorang menjadi koruptor. Pendidikan karakter jauh lebih mendasar yakni memfungsikan kecerdasan nurani (SQ). Karakter mewarnai seluruh perilaku. Ketika seseorang ada di rumah ia membawa kebaikan. Ketika ia melakukan aktivitas bisnis, ia menunjukkan kejujuran. Ketika ia bergaul di tengah masyarakat, ia menampakkan kesopanan.
Karakter Generasi Emas 2045 akan sangat efektif membangun bangsa yang besar, maju, jaya dan bermartabat. Pendidikan yang diperkirakan paling efektif adalah pendekatan esensial Pendidikan karakter di satuan pendidikan fokus pada sikap, pola pikir, komitmen dan kompetensi berbasis pada kecerdasan (IESQ). Penyelenggaraan Kegiatan intra dan ekstra kurikuler bahkan atmosfir kelembagaan secara keseluruhan ikut serta membangun karakter. Artinya, kepala sekolah, guru, pegawai dan juga peserta didik dengan segala interaksinya mempunyai peran masing-masing membangun karakter.
Krisis bangsa saat ini adalah krisis karakter, akibatnya, semua kelompok atau individu membuat acuan masing-masing. Kondisi ini rentan bermasalah, ada benturan, gesekan bahkan dimungkinkan sampai pada konflik horisontal, sebab semua kelompok mengklaim diri sebagai komunitas yang benar.

B.     Metodologi
            Meotde pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan meneliti dan memahami 5 jurnal yang membahas mengenai pendidikan karakter di Indonesia, yang saya ambil kesimpulan menjadi penelitian ini. Kelima jurnal tersebut yaitu:
1)      Peranan kearifan lokal dalam pendidikan karakter
Karya Ulfah Fajarini Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2)      Membangun karakter anak melalui permainan anak tradisional
Karya Haerani Nur, FP Universitas Negeri Makasar.
3)      Pendidikan karakter untuk anak usia dini
Karya Slamet Suyanto, Universitas Negeri Yogyakarta.
4)      Pola pelaksanaan pendidikan darakter terhadap siswa sekolah dasar
Karya Murniyetti, Engkizar, dan Fuady Anwar, Universitas Negeri Padang (UNP).
5)      Grand desain pendidikan karakter generasi emas 2045
Karya Belferik Manullang, FIK Universitas Negeri Medan.
Dari lima jurnal diatas, saya pelajari dan mengambil hal-hal penting tentang masalah pendidikan karakter yang sesuai dengan judul membangun karakter anak melalui permainan dan kearifan lokal menuju indonesia emas.

3.                PEMBAHASAN
Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka. Dalam bahasa asing sering juga dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat “local wisdom” atau pengetahuan setempat “local knowledge” atau kecerdasan setempat “local genious”.
Menurut Rahyono, kearifan lokal merupakan kecerdasan manusia yang dimiliki oleh kelompok etnis tertentu yang diperoleh melalui pengalaman masyarakat1. Artinya, kearifan lokal adalah hasil dari masyarakat tertentu melalui pengalaman mereka dan belum tentu dialami oleh masyarakat yang lain. Nilai-nilai tersebut akan melekat sangat kuat pada masyarakat tertentu dan nilai itu sudah melalui perjalanan waktu yang panjang, sepanjang keberadaan masyarakat tersebut.
Ilmuwan antropologi, seperti Koentjaraningrat, Spradley, Taylor, dan Suparlan, telah mengkategorisasikan kebudayaan manusia yang menjadi wadah kearifan lokal itu kepada idea, aktivitas sosial, artifak2. Kebudayaan merupakan keseluruhan pengetahuan yang dimiliki oleh sekelompok manusia dan dijadikan sebagai pedoman hidup untuk menginterpretasikan lingkungannya dalam bentuk tindakan-tindakannya sehari-hari.
Negara Indonesia sangat majemuk dan mempunyai petatah-petitih Melayu, bahasa kromo inggil Jawa, petuah yang diperoleh dari berbagai suku di Indonesia. Hal tersebut merupakan contoh keragaman ungkapan sukusuku bangsa yang menjadi bagian dari kearifan lokal, yang menjadi kendali dalam menjalankan kehidupan. Apa yang diutarakan dalam tulisan ini masih sangat minim, jika dibandingkan dengan seluruh suku-suku bangsa kita yang ada di nusantara (429 suku bangsa besar). Namun tulisan ini bermaksud mengetuk hati kita semua, bahwa kearifan budaya lokal berperan dalam pendidikan karakter bangsa. Berikut ini merupakan beberapa contoh kearifan lokal yang berkembang dalam kehidupan bangsa Indonesia:
a.        Aceh: Udep tsare mate syahid (hidup bahagia, meninggal diterima Allah Swt), Hukom ngon adat lagge zat ngon sifeut (antara hukum dengan adat seperti zat dengan sifatnya).
b.      Melayu (Deli, Kalimantan Barat, Sibolga, Sumatra Barat): Lain lubuk lain ikannya, di mana bumi diinjak di situ langit dijunjung.
c.       Batak: Hasangapon, hagabeon, hamoraon, sarimatua (kewibawaan, kekayaan, keturunan yang menyebar, kesempurnaan hidup). Nilakka tu jolo sarihon tu pudi (melangkah ke depan pertimbangkan ke belakang).
d.      Sumatra Barat: Bulek ai dek pambuluah, bulek kato jo mupakkek (bulat air karena pembuluh, bulat kata dengan mufakat); Adat ba sandi syara’, syara’ ba sandi kitabullah (adat berlandaskan hukum, hukum bersendikan kitab suci).
e.       Wamena: Weak Hano Lapukogo (susah senang sama-sama); Ninetaiken O’Pakeat (satu hati satu rasa).
f.       Bugis: Sipakatau (saling mengingatkan); Sipakalebbi (saling menghormati); Mali Siparappe, Rebba Sipatokkong (saling mengingatkan, saling menghargai, saling memajukan).
g.      Manado: Baku Beking Pandei (saling memandaikan satu sama lainnya).
h.      Poso: (Suku Pamona, Lore, Mori, Bungku dan Tojo/Una-Una, Ampana 125 dan pendatang: Bugis, Makassar, Toraja, Gorontalo, Minahasa, Transmigrasi: Jawa, Bali, Nusa Tenggara): Sintuwu Maroso (persatuan yang kuat: walau banyak tantangan, masalah, tidak ada siapapun yang dapat memisahkan persatuan warga Poso tanpa memandang suku, agama, ras dan antargolongan).
i.        Bali: Manyama braya (semua bersaudara), Tat Twam Asi (senasib sepenanggungan), Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan), yakni Pariangan (harmoni dengan Tuhan), Pawongan (harmoni dengan sesama manusia), dan Palemahan (harmoni dengan lingkungan alam).
j.        Jawa Timur: Siro yo ingsun, ingsun yo siro (kesederajatan atau egalitarianism), Antarantaran ugo (persaudaraan).
k.        Dayak Kanayatri: Adil ka’talimo, bacuramin ka’saruga, ba sengat ka’jubata (adil sesama, berkaca surgawi, bergantung pada Yang Esa); Rumah Betang (bersama dan saling tenggang); Handep-habaring hurung (nilai 4 Neneng Habibah. “Fungsi Saman Pada Masyarakat Pandeglang (Studi Kasus di Desa Giri Jaya Kecamatan Saketi dan Desa Batu Ranjang Kecamatan Cipeucang Kabupaten Pandeglang.Dayak Bekati: Janji baba’s ando (janji harus ditepati); Janji pua’ take japu (jangan janji sekedar kata-kata).
l.          DIY/Yogyakarta: Alon-alon asal kelakon (biar pelan asal selamat: kehati-hatian), Sambatan (saling membantu).
m.      Solo Jawa Tengah: Ngono yo ngono neng ojo ngono (gitu ya gitu tapi jangan gitu), Mangan ora mangan yen ngumpul (makan tidak makan ngumpul).
n.         Lampung: Sakai samboyan (sikap kebersamaan dan tolong menolong), Alemui nyimah (menghormati tamu), Bejuluk Beadok (memberi gelar/julukan yang baik kepada orang).
o.        Sampang (Madura): Abantal ombak asapo’ angina (berbantal ambal, berselimut angin), Lakona-lakone, kennengga kennengge (kerjakan dengan baik apa yang menjadi pekerjaanmu dan tempati dengan baik pula apa yang telah ditetapkan sebagai tempatmu), Todus (malu), Ango’an poteo tolang, e tebang potea mata (lebih baik putih tulang dari pada putih mata).
p.        Ambon (Maluku): Pela Gandong (saudara yang dikasihi, Penguatan persaudaraan lewat kegotong-royongan dalam kehidupan), Gendong beta-gendongmu jua (deritaku deritamu juga).

Selain kegiatan atau kearifan, permainan tradisional juga dapat membentuk karakter bagi anak, serta dapat menghilangkan kebiasaan anak yang lebih memilih bermain gadget didalam ruangan ber AC dan ber alih ke kegiatan permainan jaman dulu yang identik dengan kegiatan fisik dan berkeringat yang membuat anak jadi aktif dan sehat.
Di sisi lain, permainan tradisional yang juga merupakan budaya bangsa Indonesia telah terbukti dapat menumbuhkan karakter positif pada anak. Berikut ini akan diuraikan tentang manfaat permainan tradisional pada anak sebagai pembanding dengan permainan digital yang telah banyak dibahas pada poin sebelumnya. Cahyono (2011:2) mengemukakan sejumlah karakter yang dimiliki oleh permainan tradisional yang dapat membentuk karakter positif pada anak sebagai berikut.
Pertama, permainan tradisional cenderung menggunakan atau memanfaatkan alat atau fasilitas di lingkungan kita tanpa harus membelinya sehingga perlu daya imajinasi dan kreativitas yang tinggi. Banyak alat-alat permainan yang dibuat atau digunakan dari tumbuhan, tanah, genting, batu, atau pasir.
Kedua, permainan anak tradisional melibatkan pemain yang relatif banyak. Tidak mengherankan, kalau kita lihat, hampir setiap permainan rakyat begitu banyak anggotanya. Sebab, selain mendahulukan faktor kesenangan bersama, permainan ini juga mempunyai maksud lebih pada pendalaman kemampuan interaksi antarpemain (potensi interpersonal). seperti petak umpet, congklak, dan gobak sodor.
Ketiga, permainan tradisional menilik nilai-nilai luhur dan pesan-pesan moral tertentu seperti nilai-nilai kebersamaan, kejujuran, tanggung jawab, sikap lapang dada (kalau kalah), dorongan berprestasi, dan taat pada aturan. Semua itu didapatkan kalau si pemain benar-benar menghayati, menikmati, dan mengerti sari dari permainan tersebut.
Penelitian selanjutnya ialah Pendidikan karakter untuk usia dini yang harus disesuaikan dengan perkembangan moral pada anak. Ada beberapa Karakter untuk Anak Usia Dini yang perlu dikembangkan dalam diri anak usia dini. Negara memiliki kepentingan dalam menentukan karakter, khususnya yang terkait dengan ideologi, nasionalisme, hukum, dan kewarganegraraan yang dikenal sebagai karakter bangsa. Karakter bangsa ini dikenalkan sejak anak usia dini dengan cara-cara yang sederhana. Misalnya, anak diajak membuat bendera merah putih dari kertas lalu guru bercerita tentang arti bendera negara merah-putih. Di samping itu, anak juga dikenalkan dengan nilainilai yang bersifat universal yang diterima di seluruh masyarakat Indonesia bahkan dunia; seperti hormat, jujur, murah hati, tekun, memiliki integritas, perhatian, toleran, kerjasama, kerja keras, sabar, tanggung jawab, dan dapat dipercaya.
Kini pendidikan anak usia dini menghadapi banyak nilai yang diusulkan oleh berbagai pihak agar masuk dalam kurikulum PAUD, seperti aturan lalu lintas, pendidikan anti korupsi, pendidikan kelautan, pendidikan lingkungan hidup, dan pendidikan pembangunan berkelanjutan. Berikut nilai-nilai, moral, dan karakter yang dikembangkan dalam pendidikan anak usia dini yang berbeda tiap negara, sekolah, dan masyarakat.
Pola pertama yaitu melalui materi pembelajaran. Secara umum cara ini hampir dilaksanakan oleh semua sekolah karena telah terintegrasi langsung dengan seluruh mata pelajaran.
Pola kedua yaitu melalui aturan-aturan sekolah. Cara ini juga sangat efektif untuk menanamkan nilai-nilai karakter seperti disiplin, peduli lingkungan, dan tanggung jawab terhadap siswa. Karena secara keseluruhan seluruh siswa harus mempunyai disiplin yang tinggi untuk menaati aturan-aturan sekolah, seperti bagaimana datang tepat waktu ke sekolah, etika terhadap guru, adab berpakain, menjaga kebersihan, atau bagaimana menjag kebersihan lingkungan sekolah.
Pola ketiga yaitu melalui perlombaan sains antarsiswa. Perlombaan sains antarsiswa juga rutin dilakukan oleh masing-masing sekolah tersebut. Bahkan, kegiatan tersebut tidak hanya di bidang pelajaran sains, tetapi juga perlombaan yang berkaitan dengan keagamaan, perlombaan olahraga, menulis puisi dan cerita, taman, kelas sehat, dan lomba kreativitas. Hal ini merupakan penanaman karakter kreativitas, gemar membaca, dan rasa ingin tahu.
Pola keempat yaitu melalui ajang penghargaan siswa berprestasi. Cara ini juga merupakan salah satu pola yang dapat dilaksanakan pihak sekolah. Artinya, sekolah mempunyai perhatian terhadap siswa yang mempunyai semangat dan sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Pesan pendidikan karakter yang terdapat dalam pola ini adalah bagaimana seseorang harus menghargai, demokratis, dan peduli terhadap prestasi orang lain.
Pola kelima yaitu melalui peringatan hari kebangsaan. Menurut informan, setiap ada agenda peringatan hari kebangsaan seluruh sekolah dasar selalu memperingatinya, seperti HUT RI dan Hari Pendidkan Nasional. Pelaksanaan ini bertujuan menanamkan nilai karakter pada aspek seperti semangat kebangsaan, cinta terhadap tanah air, menghargai, dan peduli kepada siswa.
Pola keenam yaitu melalui praktik ibadah harian dan bimbingan kerohanian. Kegiatan praktik ibadah dilaksanakan dengan cara salat berjamaah setiap hari di sekolah. Di samping itu secara rutin melakukan kegiatan bimbingan kerohanian melaui ceramah agama kepada para siswa. Dua pola tersebut menurut informan bertujuan untuk memantapkan pemahaman siswa terhadap Pelaksanaan Pendidikan Karakter terhadap Siswa Sekolah Dasar ajaran Islam seperti akidah, ibadah, dan akhlak sehingga kelak siswa menjadi anakanak yang religius, jujur, dan bertanggung jawab.
Pola ketujuh yaitu melalui kegiatan pramuka. Cara ini juga merupakan salah satu pola dalam menanamkan nilai-nilai karakter kepada siswa. Karena dengan kegiatan pramuka siswadapat memiliki nilai-nilai kreatif, peduli sosial, kerja keras, jujur dan bersahabat, cinta damai, dan demokratis.
Pada prinsipnya, pola pelaksanaan dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter terhadap siswa di sekolah tidak diatur secara baku dan mutlak. Namun, yang terpenting adalah bagaimana nilai-nilai karakter tersebut sampai, dipahami, tertanam, dan diharapkan menjadi perilaku permanen dalam setiap diri siswa. Dengan mencermati hasil penelitian ini, maka terlihat jelas delapan pola pelaksanaan pendidikan karakter pada empat sekolah berkategori unggul sebagaimana terdapat dalam hasil penelitian ini. Pendekatan pelaksanaan pendidikan karakter dapat dilakukan dengan berbagai cara.
Selanjutnya akan menganalisis tentang cita-cita Generasi Emas 2045 yang berhadapan dengan tantangan yang sangat kompleks. Globalisasi dengan dukungan teknologi informasi yang begitu pesat membuat kehidupan semakin kompleks sehingga sulit dipahami dan diprediksi.
Karakter Generasi Emas 2045 seharusnya  diarahkan kepada orientasi hidup kualitatif spiritual yang menjadi kekuatan membangun negara besar, maju, jaya dan bermartabat. Masa depan sebuah bangsa bukanlah sebuah tempat yang akan di tuju, melainkan dibangun. Lintasan menuju ke sana, bukan ditemukan, melainkan harus dibuat. Saat pembuatan lintasan itu terjadi perubahan baik bangsa yang semakin matang, maupun perubahan masa depan yang lebih baik lagi.
Karakter menentukan kualitas hidup masa depan, artinya, efektivitas menghadapi tantangan masa depan sebuah bangsa, membutuhkan karakter yang baik. Karakter Generasi Emas 2045 merupakan kekuatan utama membangun masa depan bangsa.
Pendidikan menyongsong tahun 2045 fokus seyogianya membangun karakter Generasi Emas 2045 agar memiliki sikap positif, polapikir esensial, komitmen normatif dan kompetensi abilitas. Ironisnya, pendidikan di Indonesia sungguh-sungguh masih jauh dari arah pembentukan karakter seperti itu. Bahkan boleh jadi belum ada konsep yang benar dan dipahami bersama. Fenomena yang ada ialah ketika pendidikan karakter disosialisasikan, semua pihak memang menyambut dengan antusias, namun masih banyak penafsiran beragam tentang sosok keilmuan karakter yang diharapkan itu. Banyak diskusi tentang karakter, namun pemahaman esensi masih belum dipahami. Banyak proposal yang diajukan untuk pendidikan karakter, namun masing-masing membuat penafsiran yang beragam.
Pemahaman konsep dan strategi pengembangan karakter sebaiknya dilihat dari filosofi ideografis dan nomotetis. Filosofi ideografis merujuk kepada kemampaun individual, sedang filosofi nomotetis merujuk pada internalisasi nilai-nilai filsafat pendidikan Indonesia yakni Pancasila.
Selama ini pendidikan di Indonesia fokus pada filosofi ideografis, sementara filosofi nomotetis hampir terabaikan. Akibatnya kehidupan berbangsa semakin rapuh, karena tujuan utama mereka adalah hanya untuk memperkaya diri sendiri. Ketika sedang menduduki posisi di pemerintahan yang dipikirkan adalah untuk memperkaya diri sendiri. Kehilangan filosofi nomotetis dari kehidupan berbangsa merusak pembangunan karakter Pancasila.
Nilai  Pancasila adalah acuan konsep, implementasi serta tujuan yang harus dicapai dalam kehidupan berbangsa. Pendidikan di Indonesia belum berhasil menghasilakan SDM untuk siap mengabdi bahkan berkorban membangun bangsa yang besar, maju, jaya dan bermartabat. Orientasi pendidikan bermutu di Indonesia diukur dari keberhasilan membangun dirinya sendiri, keluarganya atau kelompoknya. Pertanyaan, siapa yang akan membangun bangsa ini? Keberhasilan secara individual atau kelompok tidak otomatis menjadi keberhasilan bangsa.
Pendidikan harus mampu membangun karakter bahwa kepentingan bangsa lebih utama dibandingkan dengan kepentingan pribadi atau kelompok. Pembiaran ideografis menjadi determinan dalam pendidikan berpeluang menjadi ancaman bagi eksistensi NKRI.
Seluruh aktivitas pendidikan semestinya bermuara kepada pembentukan karakter. Kegiatan intra dan ekstra kurikuer sebagai inti pendidikan di satuan pendidikan harus dilakukan dalam kontek pengembangan karakter. Warga negara Indonesia berkualitas memiliki karakter Pancasila, artinya ukuran berkualitas (terdidik) bagi seluruh warga NKRI adalah apakah dirinya memiliki nilai-nilai Pancasila serta nilai-nilai kemanusiaan. Kekeringan nilai Pancasila dari kepribadian akan merupakan ancaman bagi NKRI. Filosofi ideografis memberi ruang agar setiap warga cerdas serta menguasai ilmu pengetahuan seluas-luasnya.
Oleh sebab itu, warga negara yang berkualitas memiliki karakter Pancasila, nilai-nilai kemanusiaan, dan kemampuan individual dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karakter tidak dapat diinterpretasi sebagai jumlah dari sifat-sifat, melainkan karakter adalah kepribadian. “The essence of education is to recognize truth. All branches of
learning are like rivers.The spiritual learning is the like ocean. All rivers go and merge into the ocean. When they merge in the ocean, the rivers lose their individually completely” (Sathya, 2002:83). Karakter harus dilihat sebagai sifat- sifat menyeluruh dari sebuah kepribadian, yang mewarnai seluruh perilaku seseorang. Inilah esensi dari sebuah konsep karakter. Jika seseorang berkarakter baik di rumah, maka ia juga berkarakter baik ditengah masyarakat, di tempat kerja dan lain-lain. Apabila terjadi kepribadian ganda, yakni dua karakter dalam diri seseorang, lebih cenderung dikatakan sebagai karakter tiruan, yaitu ketika ucapan tidak sesuai dengan perbuatan. Karakter Generasi Emas 2045 diharapkan menunjukkan sosok kepribadian yang utuh, dan orisinil, di mana ucapan sesuai dengan perbuatan.


4.      KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Sesuai dengan penelitian yang sudah dijelaskan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa yang pertama, pendidikan karakter sangat penting diterapkan kepada masyarakat sejak usia dini, salah satunya adalah dengan menerapkan dan mengenalkan kebudayaan lokal pada anak-anak.
Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka.
Dari berbagai kearifan yang sudah dibahas dari berbagai daerah dari seluruh Indonesia diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa sebenarnya, masing-masing daerah memiliki kearifan lokal untuk pembelajaran atau panduan hidup yang baik, misalnya alon-alon waton kelakon, memiliki makna dalam menjalani sesuatu hal kita sebaiknya berhati-hati, tidak buru-buru dilakukan dengan teliti, yang penting kita sampai pada tujuan yang bisa kita ajarkan kepada anak-anak.
Selain itu, dalam kearifan lokal juga terdapat permainan tradisional yang juga merupakan budaya bangsa yang dapat menumbuhkan karakter positif dengan berbagai faktor, yaitu dalam bermain biasanya menggunakannperalatan apa adanya yang ada di lingkungan sehingga anak-anak dituntut untuk kreatif mencari di lingkungan. Permainan tradisional biasanya melibatkan banyak pemain yang bisa menambah kebersamaan serta permainan tradisional juga memiliki nilai-nilai luhut dan pesan moral seperti tanggung jawab, kejujuran, taat peraturan, dan lapang dada jika kalah yang merupakan ciri kepribadian generasi Emas.
Dalam penanaman moral karakter bagi anak usia dini harus disesuaikan dengan moral anak khususnya di tingkat pendidikan anak usia dini, ada beberapa pola yang bisa diterapkan seperti materi pembelajaran, ajaran menaati aturan sekolah,diadakan lomba antar siswa, adanya pemberian penghargaan bagi siswa berprestasi,diperingatinya hari-hari kebangsaan agar tertanam jiwa nasionalisme,diadakan praktik ibadah harian dan bimbingan kerohanian, serta kewajiban mengikuti kegiatan pramuka yang banyak menanamkan nilai-nilai positif bagi anak. Pada prinsipnya, penanaman pendidikan karakter terhadap siswa tidak diatur secara baku dan mutlak, namun yang terpenting adalah para siswa dapat memahami dan menerapkanya demi mencetak generasi emas.
Dari berbagai hal diatas salah satu tujuanya adalah menyongsing Indonesia Emas pada tahun 2045 dengan hararapan bangsa ini menjadi bangsa yang benar-benar berjiwa pancasila, yang diisi oleh masyarakat yang unngul,anti korupsi, nasionalis,cerdas, bersikap positif, berpolapikir esensial, dan komitmen normatif.

B.     Saran
            Berdasarkan kesimpulan di atas, saya dapat memberikan saran bahwa sebaiknya pendidikan karakter lebih mengedepankan metode yang berhubungan dengan kearifan dan permainan tradisional, selain hal itu memiliki banyak hal positif, itu merupakan salah satu cara menjaga tradisi dari leluhur dan mengenalkanya pada anak-anak yang pada masa modern ini lebih memilih bermain menyendiri dengan gadgetnya. Terkadang para orang tua lebih memilih mengajarkan bahasa nasional (bahasa Indonesia) bahkan bahasa Inggris kepada anak-anaknya dengan alasan agar lebih modern dengan meninggalkan kebudayaan bahasa daerah.
            Dalam hal mencapai tujuan bangsa yang mencetak generasi emas pada tahun 2045, dapat saya sarankan agar seluruh elemen masyarakat termasuk kita dapat berperan mendidik, belajar, dan menerapkan norma- norma positif yang kini sudah mulai hilang dari bangsa ini. tentunya dalam usaha mencetak generasi emas, semua elemen masyarakat termasuk kita harus turun berperan mendidik anak-anak serta kita harus mau belajar lagi, menerapkan norma dan ajaran positif salam kehidupan, karena kita juga termasuk dalam generasi emas 2045.


5.                  DAFTAR PUSTAKA

Ulfah Pajarini.( 2014)  “Peranan Kearifan Lokal Dalam Pendidikan Karakter”. Sosio Didaktika. 1(2). 123-130.
Belferik Manullang. (2013). “Grand Desain Pendidikan Karakter Generasi Emas”. Jurnal Pendidikan Karakter. 3(1).  1-14.
Slamet Suyanto.(2012) “Pendidikan Karakter Untuk Anak Usia Dini”. Jurnal Pendidikan Anak. 1(1). 1-10.
Murniyetti, Engkizar; Fuady Anwar.( 2016).  “Pola Pelaksanaan Pendidikan Karakter Terhadap Siswa Sekolah Dasar”.  Jurnal Pendidikan Karakter. 6(2). 156-166.
Haerani Nur. (2013)“Membangun Karaker Anank Melalui Permainan Anak Tradisional”. Jurnal Pendidikan karakter. 3(1). 87-94.
Soedarsono, Soemarno. 2009. Karakter Mengantar Bangsa, dari Gelap Menuju Terang. Jakarta: Elex Media Komputindo, Kompas Gramedia.
Sathya, Sai. 2002. A Compilation of The Teaching of Sathya Sai Baba on Education. Sathya Sai Book Center of America. Kementerian Pendidikan Nasional. 2010. Pengembangan Budaya dan Karakter Bangsa, Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional, Badan penelitian dan Pengembangan, Pusat Kurikulum.
Sukidi. 2005. Kecerdasan Spiritual, Mengapa SQ Lebih Penting dari pada IQ dan SQ.
F.X, Rahyono. Kearifan Budaya dalam Kata. Jakarta: Wedatama Widyasastra. 2009.
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru, 2009. h. 112.
 M. Yunus Melalatoa, Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia. Jilid A-Z. Jakarta Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1995. Lihat juga Rusmin Tumanggor, “Pemberdayaan Kearifan Lokal Memacu Kesetaraan Komunitas Adat Terpencil” dalam Jurnal. Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol.12. No.01, Januari-April 2007. h. 9-12.
Cahyono, N. 2011. “Transformasi Permainan Anak Indonesia”. Artikel. http://-permatanusantara.blogspot.com. Diakses pada tanggal 25 Sepetember 2012.