MAMBANGUN KARAKTER ANAK
MELALUI PERMAINAN DAN KEARIFAN LOKAL MENUJU INDONESIA EMAS
Jurnal
ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
semester I
Disusun
Oleh:
Aji Santoso (K1219004)
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
UNIVERSITAS
SEBELAS MARET 2019
MAMBANGUN KARAKTER ANAK MELALUI PERMAINAN DAN
KEARIFAN LOKAL MENUJU INDONESIA EMAS
Aji
Santoso
Pendidikan
Bahasa Indonesia, Universitas Sebelas Maret
ABSTRAK
Tulisan
ini bertujuan untuk memberikan wawasan bagi pembaca mengenai pendidikan
karakter yang saat ini menjadi salah satu program pemerintahan Presiden Joko
Widodo yang dijanjikan pada kampanye menjelang pilpres tahun 2014 hingga
menjadi presiden selama dua periode. Pendidikan karakter yang akan saya bahas
ialah pendidikan karakter di pendidikan anak usia dini dan tingkat sekolah
dasar melalui permainan dan kearifan tradisional yang sudah mulai jarang
ditemukan di Indonesia. Dengan tujuan lain, jurnal ini juga akan mengenalkan
dan menghidupkan aktivitas tradisional pada anak demi terwujudnya karakter
pemimpin, berjiwa sosial, mandiri, dan anti korupsi menuju Indonesia Emas
menjadi bangsa yang unggul, besar,
maju, dan bermartabat pada tahun2045.
Kata kunci: Pendidikan Karakter, Anak, Tradisional,
Indonesia Emas
1. PENDAHULUAN
Bab pertama ini
meliputi empat hal yang akan diuraikan oleh peneliti. Keempat hal tersebut,
yaitu latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat
penelitian
A.
Latar
Belakang
Pendidikan
karakter padaanak usia dini merupakan investasi bangsa, jika ingin mengembangkan
bangsa Indonesia menjadi bangsa dengan nasionalisme, integritas, dan karakter
yang kuat maka mulailah sejak anak usia dini. Bangsa Indonesia sedang mengalami
masa transisi dari masyarakat yang serba terpimpin menjadi masyarakat demokratis.
Masa transisi ini ternyata sangat berat, mahal, dan menimbulkan banyak korban. Terhitung
sejak orde baru berganti, banyak terjadi demo besar-besaran disertai kerusuhan
dan perusakan di berbagai daerah. Tidak jarang hal itu menelan korban jiwa.
Ironis, usaha mewujudkan masyarakat yang religius, berperikemanusiaan, demokratis,
adil dan sosial justru berakhir dengan kericuhan, kekerasan, dan kerusakan. Perselisihan
antar etnis, ras, dan agama, serta antara pemerintah dengan masyarakat sering
terjadi. Demikian pula kasus pembunuhan, bunuh diri, dan kriminalitas lainnya
menyebabkan 1.4 juta orang terbunuh pada tahun 2001 (Kamanto Soenarto, dkk.
2004).
Kondisi
bangsa yang serba terpuruk terbawa oleh siswa ke sekolah. Banyak siswa yang
tawuran, terkena narkoba, dan berbuat anarkis. Sekolah mengalami kesulitan
mendidik siswanya agar menjadi pemelajar yang gigih, mandiri, dan tak kenal
lelah. Untuk itu, diperlukan pendidikan yang tidak hanya mengembangkan
pengetahuan, tetapi juga pikiran yang tajam dan jernih, perilaku, tutur kata
dan sikap yang anggun dan etis, serta memiliki mental baja untuk berhasil dan
berprestasi yang semua itu terangkum di dalam pendidikan karakter.
Penanaman nilai-nilai moral, sosial,
intelektual, dan emosional secara terpadu merupakan isu sentral pendidikan anak
usia dini. Untuk itu, diperlukan pikiran, wawasan, dan disain pendidikan
karakter agar pembentukan karakter dapat dilakukan sejak usia dini.
Selain masalah pendidikan di usia dini, Berbagai fenomena sosial
yang muncul akhir-akhir ini pun cukup mengkhawatirkan. Fenomena kekerasan dalam
menyelesaikan masalah menjadi hal yang umum. Pemaksaan kebijakan terjadi hampir
pada setiap level institusi. Manipulasi informasi menjadi hal yang lumrah. Penekanan
dan pemaksaan kehendak satu kelompok terhadap kelompok lain dianggap biasa.
Hukum begitu jeli pada kesalahan tetapi buta pada keadilan.
Tampaknya karakter masyarakat Indonesia yang santun dalam
berperilaku, musyawarah mufakat dalam menyelesaikan masalah, local wisdom yang
kaya dengan pluralitas, toleransi dan gotong royong, telah berubah wujud
menjadi hegemoni kelompok-kelompok baru yang saling mengalahkan. Apakah
kearifan lokal yang kita miliki seolah punah, dan hilang fungsinya dalam membentuk
karakter di masyarakat.
Dalam pembahasan ini, permainan atau
kegiatan tradisional dalam membangun karakter anak sangat penting. Hal ini
dilatarbelakangi oleh adanya fenomena perubahan aktivitas, yang lebih sering
bermain permainan modern yang identik dengan penggunaan teknologi seperti video
games dan games online. Akibatnya, permainan anak tradisional mulai
terlupakan dan menjadi asing di kalangan anak-anak. Selain itu, tingkat
kecanduan terhadap permainan modern pada anak juga tinggi sehingga berpengaruh pada
kebiasaan dan perilaku anak. Tulisan berdasar studi pustaka ini menguraikan
dampak yang terjadi pada anak ketika kecanduan bermain games yang
berakibat pada karakter yang akan terbangun pada diri anak.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas, maka masalah yang akan diteliti dapat dirumuskan sebagai
berikut:
1) Apa yang dimaksud pendidikan karakter?
2) Manfaat pendidikan karakter di Indonesia
sejak dini?
3) Apa pengaruh permainan tradisional pada
karakter anak?
C.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka
tujuan yang dapat dijabarkan sebagai berikut:
1) Tercapainya pendidikan karakter yang
menyeluruh;
2) Memberikan wawasan pentingnya pendidikan
karakter sejak dini;
3) Memberi pengetahuan pentingnya kegiatan
dan permainan tradisional dalam pendidikan karakter;
4) Mewujudkan generasi Indonesia Emas yang
unggul.
D.
Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan
diatas, maka manfaat yang diberikan sebagai berikut:
1) Segera tercapainya pendidikan karakter
yang tepat;
2) Mendidik anak dengan karakter unggul
sejak dini;
3) Menjaga permainan dan kearifan
tradisional;
4) Menghasilkan generasi unggul menuju
Indinesia Emas.
2. LANDASAN
TEORI DAN METODOLOGI
A.
Landasan Teori
Karakter adalah landasan utama membentuk
manusia berkualitas. Jika kekayaan harta telah sirna, maka tidak ada yang
hilang karena karakter mengutamakan kekayaan budi pekerti. Jika kesehatan yang
hilang, sesuatu telah hilang karena karakter memerlukan kesehatan jiwa dan
raga. Jika karakter yang hilang, segalanya telah hilang karena karakter adalah
roh kehidupan.
Manusia berkualitas baik adalah manusia
berkarakter yang dalam filsafat pendidikan mencakup dimensi ideografis dan
dimensi nomotetis. Secara individual (ideografis) memiliki kemampuan yang
dimanfaatkan dengan rambu-rambu nomotetis, yakni norma kebangsaan. Karakter
merupakan pendukung utama dalam pembangunan bangsa, kata Bung Karno. Beliau
(Soedarsono, 2009:46) mengatakan: “Bangsa ini harus dibangun dengan
mendahulukan pembangunan karakter (character building). Karena character
building inilah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar,
maju dan jaya serta bermartabat. Kalau character building tidak
dilakukan, maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli”. Dalam perspektif
filosofis dikatakan bahwa education without character, this is sins
the basis for misery in the world, The essence of education is to
recognize truth. Let your secular education go hand in hand with
spiritual education
(Sathya, 2002:83) Pendidikan karakter
dapat dilakukan dengan dua pendekatan yakni pendekatan praktis dan pendekatan
esensial. Pendekatan praktis melatihkan sifat-sifat yang diharapkan menjadi
perilaku peserta didik. Pendekatan esensi menyiapkan kepribadian sebagai
rumahnya karakter.
Kemendikbud membuat desain pendidikan
karakter dengan membuat daftar sifat-sifat yang harus diimplementasikan kepada
peserta didik. Ada delapan belas sifat untuk pendidikan karakter dan sembilan
sifat pendidikan anti korupsi
Sukidi (2005:4)
mengatakan bahwa fenomena krisis hidup (krisis karakter)
tidak hanya semata-mata krisis intelektual dan moral, namun sedikit lebih dalam
ke jantung peroalan bahwa krisis moral yang hampir merambah seluruh lini
kehidupan kita, sebenarnya berasal dan bermuara pada krisis spiritual. Artinya
krisis karakter tidak hanya sekedar kehilangan 18 sifat dan kehilangan 9 sifat
seseorang menjadi koruptor. Pendidikan karakter jauh lebih mendasar yakni
memfungsikan kecerdasan nurani (SQ). Karakter mewarnai seluruh perilaku.
Ketika seseorang ada di rumah ia membawa kebaikan. Ketika ia melakukan aktivitas
bisnis, ia menunjukkan kejujuran. Ketika ia bergaul di tengah masyarakat, ia menampakkan
kesopanan.
Karakter Generasi Emas 2045 akan sangat efektif
membangun bangsa yang besar, maju, jaya dan bermartabat. Pendidikan yang
diperkirakan paling efektif adalah pendekatan esensial Pendidikan karakter di
satuan pendidikan fokus pada sikap, pola pikir, komitmen dan kompetensi
berbasis pada kecerdasan (IESQ). Penyelenggaraan Kegiatan intra dan ekstra
kurikuler bahkan atmosfir kelembagaan secara keseluruhan ikut serta membangun
karakter. Artinya, kepala sekolah, guru, pegawai dan juga peserta didik dengan
segala interaksinya mempunyai peran masing-masing membangun karakter.
Krisis bangsa saat ini adalah krisis
karakter, akibatnya, semua kelompok atau individu membuat acuan masing-masing.
Kondisi ini rentan bermasalah, ada benturan, gesekan bahkan dimungkinkan sampai
pada konflik horisontal, sebab semua kelompok mengklaim diri sebagai komunitas
yang benar.
B.
Metodologi
Meotde
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan meneliti dan memahami 5
jurnal yang membahas mengenai pendidikan karakter di Indonesia, yang saya ambil
kesimpulan menjadi penelitian ini. Kelima jurnal tersebut yaitu:
1)
Peranan kearifan lokal
dalam pendidikan karakter
Karya Ulfah Fajarini Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2)
Membangun karakter anak melalui permainan anak tradisional
Karya Haerani Nur, FP Universitas Negeri Makasar.
3)
Pendidikan karakter
untuk anak usia dini
Karya
Slamet Suyanto, Universitas Negeri Yogyakarta.
4)
Pola pelaksanaan pendidikan darakter terhadap siswa sekolah dasar
Karya Murniyetti, Engkizar, dan Fuady Anwar, Universitas
Negeri Padang (UNP).
5)
Grand desain pendidikan karakter generasi emas 2045
Karya Belferik Manullang, FIK
Universitas Negeri Medan.
Dari
lima jurnal diatas, saya pelajari dan mengambil hal-hal penting tentang masalah
pendidikan karakter yang sesuai dengan judul membangun karakter anak melalui
permainan dan kearifan lokal menuju indonesia emas.
3.
PEMBAHASAN
Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta
berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh
masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan
mereka. Dalam bahasa asing sering juga dikonsepsikan sebagai kebijakan setempat
“local wisdom” atau pengetahuan setempat “local knowledge”
atau kecerdasan setempat “local genious”.
Menurut Rahyono, kearifan lokal merupakan kecerdasan manusia
yang dimiliki oleh kelompok etnis tertentu yang diperoleh melalui pengalaman masyarakat1.
Artinya, kearifan lokal adalah hasil dari masyarakat tertentu melalui
pengalaman mereka dan belum tentu dialami oleh masyarakat yang lain. Nilai-nilai
tersebut akan melekat sangat kuat pada masyarakat tertentu dan nilai itu sudah
melalui perjalanan waktu yang panjang, sepanjang keberadaan masyarakat
tersebut.
Ilmuwan antropologi, seperti Koentjaraningrat, Spradley, Taylor,
dan Suparlan, telah mengkategorisasikan kebudayaan manusia yang menjadi wadah kearifan
lokal itu kepada idea, aktivitas sosial, artifak2. Kebudayaan merupakan
keseluruhan pengetahuan yang dimiliki oleh sekelompok manusia dan dijadikan
sebagai pedoman hidup untuk menginterpretasikan lingkungannya dalam bentuk
tindakan-tindakannya sehari-hari.
Negara Indonesia sangat majemuk dan mempunyai petatah-petitih
Melayu, bahasa kromo inggil Jawa, petuah yang diperoleh dari berbagai suku di
Indonesia. Hal tersebut merupakan contoh keragaman ungkapan sukusuku bangsa
yang menjadi bagian dari kearifan lokal, yang menjadi kendali dalam menjalankan
kehidupan. Apa yang diutarakan dalam tulisan ini masih sangat minim, jika
dibandingkan dengan seluruh suku-suku bangsa kita yang ada di nusantara (429
suku bangsa besar). Namun tulisan ini bermaksud mengetuk hati kita semua, bahwa
kearifan budaya lokal berperan dalam pendidikan karakter bangsa. Berikut ini merupakan
beberapa contoh kearifan lokal yang berkembang dalam kehidupan bangsa Indonesia:
a. Aceh: Udep tsare mate
syahid (hidup bahagia, meninggal diterima Allah Swt), Hukom ngon
adat lagge zat ngon sifeut (antara hukum dengan adat seperti zat dengan
sifatnya).
b. Melayu (Deli, Kalimantan Barat, Sibolga, Sumatra Barat): Lain
lubuk lain ikannya, di mana bumi diinjak di situ langit dijunjung.
c. Batak: Hasangapon, hagabeon, hamoraon, sarimatua (kewibawaan,
kekayaan, keturunan yang menyebar, kesempurnaan hidup). Nilakka tu jolo
sarihon tu pudi (melangkah ke depan pertimbangkan ke belakang).
d. Sumatra Barat: Bulek ai dek pambuluah, bulek kato jo mupakkek
(bulat air karena pembuluh, bulat kata dengan mufakat); Adat ba sandi
syara’, syara’ ba sandi kitabullah (adat berlandaskan hukum, hukum
bersendikan kitab suci).
e. Wamena: Weak Hano Lapukogo (susah senang sama-sama); Ninetaiken
O’Pakeat (satu hati satu rasa).
f. Bugis: Sipakatau (saling mengingatkan); Sipakalebbi (saling
menghormati); Mali Siparappe, Rebba Sipatokkong (saling mengingatkan,
saling menghargai, saling memajukan).
g. Manado: Baku Beking Pandei (saling memandaikan satu sama
lainnya).
h. Poso: (Suku Pamona, Lore, Mori, Bungku dan Tojo/Una-Una, Ampana 125
dan pendatang: Bugis, Makassar, Toraja, Gorontalo, Minahasa, Transmigrasi:
Jawa, Bali, Nusa Tenggara): Sintuwu Maroso (persatuan yang kuat: walau
banyak tantangan, masalah, tidak ada siapapun yang dapat memisahkan persatuan
warga Poso tanpa memandang suku, agama, ras dan antargolongan).
i.
Bali: Manyama
braya (semua bersaudara), Tat Twam Asi (senasib sepenanggungan), Tri
Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan), yakni Pariangan (harmoni dengan
Tuhan), Pawongan (harmoni dengan sesama manusia), dan Palemahan (harmoni
dengan lingkungan alam).
j.
Jawa
Timur: Siro yo ingsun, ingsun yo siro (kesederajatan atau
egalitarianism), Antarantaran ugo (persaudaraan).
k.
Dayak
Kanayatri: Adil ka’talimo, bacuramin ka’saruga, ba sengat ka’jubata (adil
sesama, berkaca surgawi, bergantung pada Yang Esa); Rumah Betang (bersama
dan saling tenggang); Handep-habaring hurung (nilai 4 Neneng Habibah.
“Fungsi Saman Pada Masyarakat Pandeglang (Studi Kasus di Desa Giri Jaya
Kecamatan Saketi dan Desa Batu Ranjang Kecamatan Cipeucang Kabupaten Pandeglang.Dayak
Bekati: Janji baba’s ando (janji harus ditepati); Janji pua’ take
japu (jangan janji sekedar kata-kata).
l.
DIY/Yogyakarta:
Alon-alon asal kelakon (biar pelan asal selamat: kehati-hatian), Sambatan
(saling membantu).
m. Solo Jawa Tengah: Ngono yo ngono neng ojo ngono (gitu ya
gitu tapi jangan gitu), Mangan ora mangan yen ngumpul (makan tidak makan
ngumpul).
n.
Lampung: Sakai samboyan (sikap kebersamaan
dan tolong menolong), Alemui nyimah (menghormati tamu), Bejuluk
Beadok (memberi gelar/julukan yang baik kepada orang).
o.
Sampang
(Madura): Abantal ombak asapo’ angina (berbantal ambal, berselimut angin),
Lakona-lakone, kennengga kennengge (kerjakan dengan baik apa yang
menjadi pekerjaanmu dan tempati dengan baik pula apa yang telah ditetapkan
sebagai tempatmu), Todus (malu), Ango’an poteo tolang, e
tebang potea mata (lebih baik putih tulang dari pada putih mata).
p.
Ambon
(Maluku): Pela Gandong (saudara yang dikasihi, Penguatan persaudaraan lewat
kegotong-royongan dalam kehidupan), Gendong beta-gendongmu jua (deritaku
deritamu juga).
Selain kegiatan atau
kearifan, permainan tradisional juga dapat membentuk karakter bagi anak, serta
dapat menghilangkan kebiasaan anak yang lebih memilih bermain gadget didalam
ruangan ber AC dan ber alih ke kegiatan permainan jaman dulu yang identik
dengan kegiatan fisik dan berkeringat yang membuat anak jadi aktif dan sehat.
Di sisi lain,
permainan tradisional yang juga merupakan budaya bangsa Indonesia telah
terbukti dapat menumbuhkan karakter positif pada anak. Berikut ini akan
diuraikan tentang manfaat permainan tradisional pada anak sebagai pembanding
dengan permainan digital yang telah banyak dibahas pada poin sebelumnya.
Cahyono (2011:2) mengemukakan sejumlah karakter yang dimiliki oleh permainan
tradisional yang dapat membentuk karakter positif pada anak sebagai berikut.
Pertama, permainan
tradisional cenderung menggunakan atau memanfaatkan alat atau fasilitas di
lingkungan kita tanpa harus membelinya sehingga perlu daya imajinasi dan kreativitas
yang tinggi. Banyak alat-alat permainan yang dibuat atau digunakan dari
tumbuhan, tanah, genting, batu, atau pasir.
Kedua, permainan anak
tradisional melibatkan pemain yang relatif banyak. Tidak mengherankan, kalau
kita lihat, hampir setiap permainan rakyat begitu banyak anggotanya. Sebab,
selain mendahulukan faktor kesenangan bersama, permainan ini juga mempunyai
maksud lebih pada pendalaman kemampuan interaksi antarpemain (potensi
interpersonal). seperti petak umpet, congklak, dan gobak sodor.
Ketiga, permainan
tradisional menilik nilai-nilai luhur dan pesan-pesan moral tertentu seperti
nilai-nilai kebersamaan, kejujuran, tanggung jawab, sikap lapang dada (kalau
kalah), dorongan berprestasi, dan taat pada aturan. Semua itu didapatkan kalau
si pemain benar-benar menghayati, menikmati, dan mengerti sari dari permainan
tersebut.
Penelitian selanjutnya ialah Pendidikan
karakter untuk usia dini yang harus disesuaikan dengan perkembangan moral pada
anak. Ada beberapa Karakter untuk Anak
Usia Dini yang perlu dikembangkan dalam diri anak usia dini. Negara
memiliki kepentingan dalam menentukan karakter, khususnya yang terkait dengan
ideologi, nasionalisme, hukum, dan kewarganegraraan yang dikenal sebagai
karakter bangsa. Karakter bangsa ini dikenalkan sejak anak usia dini dengan
cara-cara yang sederhana. Misalnya, anak diajak membuat bendera merah putih
dari kertas lalu guru bercerita tentang arti bendera negara merah-putih. Di
samping itu, anak juga dikenalkan dengan nilainilai yang bersifat universal
yang diterima di seluruh masyarakat Indonesia bahkan dunia; seperti hormat,
jujur, murah hati, tekun, memiliki integritas, perhatian, toleran, kerjasama,
kerja keras, sabar, tanggung jawab, dan dapat dipercaya.
Kini
pendidikan anak usia dini menghadapi banyak nilai yang diusulkan oleh berbagai
pihak agar masuk dalam kurikulum PAUD, seperti aturan lalu lintas, pendidikan anti
korupsi, pendidikan kelautan, pendidikan lingkungan hidup, dan pendidikan
pembangunan berkelanjutan. Berikut nilai-nilai, moral, dan karakter yang dikembangkan
dalam pendidikan anak usia dini yang berbeda tiap negara, sekolah, dan
masyarakat.
Pola
pertama yaitu melalui materi pembelajaran. Secara umum cara ini hampir
dilaksanakan oleh semua sekolah karena telah terintegrasi langsung dengan seluruh
mata pelajaran.
Pola
kedua yaitu melalui aturan-aturan sekolah. Cara ini juga sangat efektif untuk
menanamkan nilai-nilai karakter seperti disiplin, peduli lingkungan, dan
tanggung jawab terhadap siswa. Karena secara keseluruhan seluruh siswa
harus mempunyai disiplin yang tinggi untuk menaati aturan-aturan sekolah,
seperti bagaimana datang tepat waktu ke sekolah, etika terhadap guru, adab
berpakain, menjaga kebersihan, atau bagaimana menjag kebersihan lingkungan
sekolah.
Pola
ketiga yaitu melalui perlombaan sains antarsiswa. Perlombaan sains antarsiswa
juga rutin dilakukan oleh masing-masing sekolah tersebut. Bahkan, kegiatan
tersebut tidak hanya di bidang pelajaran sains, tetapi juga perlombaan yang
berkaitan dengan keagamaan, perlombaan olahraga, menulis puisi dan
cerita, taman, kelas sehat, dan lomba kreativitas. Hal ini
merupakan penanaman karakter kreativitas, gemar membaca, dan rasa
ingin tahu.
Pola
keempat yaitu melalui ajang penghargaan siswa berprestasi. Cara ini juga
merupakan salah satu pola yang dapat dilaksanakan pihak sekolah. Artinya,
sekolah mempunyai perhatian terhadap siswa yang mempunyai semangat dan
sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Pesan pendidikan karakter yang terdapat
dalam pola ini adalah bagaimana seseorang harus menghargai, demokratis,
dan peduli terhadap prestasi orang lain.
Pola
kelima yaitu melalui peringatan hari kebangsaan. Menurut informan, setiap ada
agenda peringatan hari kebangsaan seluruh sekolah dasar selalu memperingatinya,
seperti HUT RI dan Hari Pendidkan Nasional. Pelaksanaan ini bertujuan
menanamkan nilai karakter pada aspek seperti semangat kebangsaan, cinta
terhadap tanah air, menghargai, dan peduli kepada siswa.
Pola
keenam yaitu melalui praktik ibadah harian dan bimbingan kerohanian. Kegiatan
praktik ibadah dilaksanakan dengan cara salat berjamaah setiap hari di sekolah.
Di samping itu secara rutin melakukan kegiatan bimbingan kerohanian melaui
ceramah agama kepada para siswa. Dua pola tersebut menurut informan bertujuan
untuk memantapkan pemahaman siswa terhadap Pelaksanaan Pendidikan Karakter
terhadap Siswa Sekolah Dasar ajaran Islam seperti akidah, ibadah, dan akhlak
sehingga kelak siswa menjadi anakanak yang religius, jujur, dan bertanggung
jawab.
Pola
ketujuh yaitu melalui kegiatan pramuka. Cara ini juga merupakan salah satu pola
dalam menanamkan nilai-nilai karakter kepada siswa. Karena dengan kegiatan
pramuka siswadapat memiliki nilai-nilai kreatif, peduli sosial, kerja
keras, jujur dan bersahabat, cinta damai, dan demokratis.
Pada
prinsipnya, pola pelaksanaan dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter terhadap
siswa di sekolah tidak diatur secara baku dan mutlak. Namun, yang terpenting
adalah bagaimana nilai-nilai karakter tersebut sampai, dipahami, tertanam, dan
diharapkan menjadi perilaku permanen dalam setiap diri siswa. Dengan mencermati
hasil penelitian ini, maka terlihat jelas delapan pola pelaksanaan pendidikan
karakter pada empat sekolah berkategori unggul sebagaimana terdapat dalam hasil
penelitian ini. Pendekatan pelaksanaan pendidikan karakter dapat dilakukan
dengan berbagai cara.
Selanjutnya akan menganalisis tentang cita-cita Generasi Emas 2045
yang berhadapan dengan tantangan yang sangat kompleks. Globalisasi dengan
dukungan teknologi informasi yang begitu pesat membuat kehidupan semakin
kompleks sehingga sulit dipahami dan diprediksi.
Karakter Generasi Emas 2045 seharusnya diarahkan kepada orientasi hidup kualitatif
spiritual yang menjadi kekuatan membangun negara besar, maju, jaya dan
bermartabat. Masa depan sebuah bangsa bukanlah sebuah tempat yang akan di tuju,
melainkan dibangun. Lintasan menuju ke sana, bukan ditemukan, melainkan harus
dibuat. Saat pembuatan lintasan itu terjadi perubahan baik bangsa yang semakin
matang, maupun perubahan masa depan yang lebih baik lagi.
Karakter menentukan kualitas hidup masa depan, artinya,
efektivitas menghadapi tantangan masa depan sebuah bangsa, membutuhkan karakter
yang baik. Karakter Generasi Emas 2045 merupakan kekuatan utama membangun masa
depan bangsa.
Pendidikan menyongsong tahun 2045 fokus seyogianya membangun
karakter Generasi Emas 2045 agar memiliki sikap positif, polapikir esensial,
komitmen normatif dan kompetensi abilitas. Ironisnya, pendidikan di Indonesia
sungguh-sungguh masih jauh dari arah pembentukan karakter seperti itu. Bahkan
boleh jadi belum ada konsep yang benar dan dipahami bersama. Fenomena yang ada
ialah ketika pendidikan karakter disosialisasikan, semua pihak memang menyambut
dengan antusias, namun masih banyak penafsiran beragam tentang sosok keilmuan
karakter yang diharapkan itu. Banyak diskusi tentang karakter, namun pemahaman
esensi masih belum dipahami. Banyak proposal yang diajukan untuk pendidikan
karakter, namun masing-masing membuat penafsiran yang beragam.
Pemahaman konsep dan strategi pengembangan karakter sebaiknya
dilihat dari filosofi ideografis dan nomotetis. Filosofi ideografis merujuk
kepada kemampaun individual, sedang filosofi nomotetis merujuk pada
internalisasi nilai-nilai filsafat pendidikan Indonesia yakni Pancasila.
Selama ini pendidikan di Indonesia fokus pada filosofi ideografis,
sementara filosofi nomotetis hampir terabaikan. Akibatnya kehidupan berbangsa
semakin rapuh, karena tujuan utama mereka adalah hanya untuk memperkaya diri
sendiri. Ketika sedang menduduki posisi di pemerintahan yang dipikirkan adalah
untuk memperkaya diri sendiri. Kehilangan filosofi nomotetis dari kehidupan
berbangsa merusak pembangunan karakter Pancasila.
Nilai Pancasila adalah
acuan konsep, implementasi serta tujuan yang harus dicapai dalam kehidupan
berbangsa. Pendidikan di Indonesia belum berhasil menghasilakan SDM untuk siap
mengabdi bahkan berkorban membangun bangsa yang besar, maju, jaya dan
bermartabat. Orientasi pendidikan bermutu di Indonesia diukur dari keberhasilan
membangun dirinya sendiri, keluarganya atau kelompoknya. Pertanyaan, siapa yang
akan membangun bangsa ini? Keberhasilan secara individual atau kelompok tidak otomatis
menjadi keberhasilan bangsa.
Pendidikan harus mampu membangun karakter bahwa kepentingan bangsa
lebih utama dibandingkan dengan kepentingan pribadi atau kelompok. Pembiaran
ideografis menjadi determinan dalam pendidikan berpeluang menjadi ancaman bagi
eksistensi NKRI.
Seluruh
aktivitas pendidikan semestinya bermuara kepada pembentukan
karakter. Kegiatan intra dan ekstra kurikuer sebagai inti
pendidikan di satuan pendidikan harus dilakukan dalam kontek pengembangan karakter.
Warga negara Indonesia berkualitas memiliki karakter Pancasila, artinya ukuran
berkualitas (terdidik) bagi seluruh warga NKRI adalah apakah dirinya memiliki nilai-nilai
Pancasila serta nilai-nilai kemanusiaan. Kekeringan nilai Pancasila dari
kepribadian akan merupakan ancaman bagi NKRI. Filosofi ideografis memberi ruang
agar setiap warga cerdas serta menguasai ilmu pengetahuan seluas-luasnya.
Oleh
sebab itu, warga negara yang berkualitas memiliki karakter Pancasila,
nilai-nilai kemanusiaan, dan kemampuan individual dalam penguasaan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Karakter tidak dapat diinterpretasi sebagai jumlah
dari sifat-sifat, melainkan karakter adalah kepribadian. “The essence of
education is to recognize truth. All branches of
learning
are like rivers.The spiritual learning is the like ocean. All rivers go and
merge into the ocean. When they merge in the ocean, the rivers lose their
individually completely” (Sathya, 2002:83). Karakter harus
dilihat sebagai sifat- sifat menyeluruh dari sebuah kepribadian, yang
mewarnai seluruh perilaku seseorang. Inilah esensi dari sebuah konsep
karakter. Jika seseorang berkarakter baik di rumah, maka ia juga
berkarakter baik ditengah masyarakat, di tempat kerja dan lain-lain.
Apabila terjadi kepribadian ganda, yakni dua karakter dalam diri seseorang,
lebih cenderung dikatakan sebagai karakter tiruan, yaitu ketika
ucapan tidak sesuai dengan perbuatan. Karakter Generasi Emas 2045
diharapkan menunjukkan sosok kepribadian yang utuh, dan orisinil, di
mana ucapan sesuai dengan perbuatan.
4. KESIMPULAN
DAN SARAN
A. Kesimpulan
Sesuai
dengan penelitian yang sudah dijelaskan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa
yang pertama, pendidikan karakter sangat penting diterapkan kepada masyarakat
sejak usia dini, salah satunya adalah dengan menerapkan dan mengenalkan kebudayaan
lokal pada anak-anak.
Kearifan lokal
adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan
yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab
berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka.
Dari berbagai
kearifan yang sudah dibahas dari berbagai daerah dari seluruh Indonesia diatas
dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa sebenarnya, masing-masing daerah memiliki
kearifan lokal untuk pembelajaran atau panduan hidup yang baik, misalnya
alon-alon waton kelakon, memiliki makna dalam menjalani sesuatu hal kita
sebaiknya berhati-hati, tidak buru-buru dilakukan dengan teliti, yang penting
kita sampai pada tujuan yang bisa kita ajarkan kepada anak-anak.
Selain itu, dalam
kearifan lokal juga terdapat permainan tradisional yang juga merupakan budaya
bangsa yang dapat menumbuhkan karakter positif dengan berbagai faktor, yaitu
dalam bermain biasanya menggunakannperalatan apa adanya yang ada di lingkungan
sehingga anak-anak dituntut untuk kreatif mencari di lingkungan. Permainan
tradisional biasanya melibatkan banyak pemain yang bisa menambah kebersamaan
serta permainan tradisional juga memiliki nilai-nilai luhut dan pesan moral
seperti tanggung jawab, kejujuran, taat peraturan, dan lapang dada jika kalah
yang merupakan ciri kepribadian generasi Emas.
Dalam
penanaman moral karakter bagi anak usia dini harus disesuaikan dengan moral
anak khususnya di tingkat pendidikan anak usia dini, ada beberapa pola yang
bisa diterapkan seperti materi pembelajaran, ajaran menaati aturan
sekolah,diadakan lomba antar siswa, adanya pemberian penghargaan bagi siswa
berprestasi,diperingatinya hari-hari kebangsaan agar tertanam jiwa
nasionalisme,diadakan praktik ibadah harian dan bimbingan kerohanian, serta
kewajiban mengikuti kegiatan pramuka yang banyak menanamkan nilai-nilai positif
bagi anak. Pada prinsipnya, penanaman pendidikan karakter terhadap siswa tidak
diatur secara baku dan mutlak, namun yang terpenting adalah para siswa dapat
memahami dan menerapkanya demi mencetak generasi emas.
Dari
berbagai hal diatas salah satu tujuanya adalah menyongsing Indonesia Emas pada
tahun 2045 dengan hararapan bangsa ini menjadi bangsa yang benar-benar
berjiwa pancasila, yang diisi oleh masyarakat yang unngul,anti korupsi,
nasionalis,cerdas, bersikap positif, berpolapikir esensial, dan komitmen
normatif.
B. Saran
Berdasarkan
kesimpulan di atas, saya dapat memberikan saran bahwa sebaiknya pendidikan
karakter lebih mengedepankan metode yang berhubungan dengan kearifan dan
permainan tradisional, selain hal itu memiliki banyak hal positif, itu
merupakan salah satu cara menjaga tradisi dari leluhur dan mengenalkanya pada
anak-anak yang pada masa modern ini lebih memilih bermain menyendiri dengan
gadgetnya. Terkadang para orang tua lebih memilih mengajarkan bahasa nasional
(bahasa Indonesia) bahkan bahasa Inggris kepada anak-anaknya dengan alasan agar
lebih modern dengan meninggalkan kebudayaan bahasa daerah.
Dalam hal mencapai tujuan bangsa
yang mencetak generasi emas pada tahun 2045, dapat saya sarankan
agar seluruh elemen masyarakat termasuk kita dapat berperan mendidik, belajar,
dan menerapkan norma- norma positif yang kini sudah mulai hilang dari bangsa
ini. tentunya dalam usaha mencetak generasi emas, semua elemen masyarakat
termasuk kita harus turun berperan mendidik anak-anak serta kita harus mau
belajar lagi, menerapkan norma dan ajaran positif salam kehidupan, karena kita
juga termasuk dalam generasi emas 2045.
5.
DAFTAR
PUSTAKA
Ulfah Pajarini.( 2014) “Peranan Kearifan Lokal Dalam Pendidikan
Karakter”. Sosio Didaktika. 1(2). 123-130.
Belferik Manullang.
(2013). “Grand Desain Pendidikan Karakter Generasi Emas”. Jurnal Pendidikan
Karakter. 3(1). 1-14.
Slamet
Suyanto.(2012) “Pendidikan Karakter Untuk Anak Usia Dini”. Jurnal Pendidikan
Anak. 1(1). 1-10.
Murniyetti,
Engkizar; Fuady Anwar.( 2016). “Pola
Pelaksanaan Pendidikan Karakter Terhadap Siswa Sekolah Dasar”. Jurnal Pendidikan Karakter. 6(2). 156-166.
Haerani Nur.
(2013)“Membangun Karaker Anank Melalui Permainan Anak Tradisional”. Jurnal Pendidikan
karakter. 3(1). 87-94.
Soedarsono,
Soemarno. 2009. Karakter Mengantar Bangsa, dari Gelap Menuju Terang. Jakarta:
Elex Media Komputindo, Kompas Gramedia.
Sathya, Sai. 2002. A
Compilation of The Teaching of Sathya Sai Baba on Education. Sathya
Sai Book Center of America. Kementerian Pendidikan Nasional. 2010.
Pengembangan Budaya dan Karakter Bangsa, Jakarta: Kementerian Pendidikan
Nasional, Badan penelitian dan Pengembangan, Pusat Kurikulum.
Sukidi. 2005. Kecerdasan
Spiritual, Mengapa SQ Lebih Penting dari pada IQ dan SQ.
F.X, Rahyono. Kearifan Budaya dalam Kata. Jakarta:
Wedatama Widyasastra. 2009.
Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta:
Aksara Baru, 2009. h. 112.
M. Yunus Melalatoa, Ensiklopedi
Suku Bangsa di Indonesia. Jilid A-Z. Jakarta Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. 1995. Lihat juga Rusmin Tumanggor, “Pemberdayaan Kearifan Lokal
Memacu Kesetaraan Komunitas Adat Terpencil” dalam Jurnal. Penelitian dan
Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol.12. No.01, Januari-April 2007. h. 9-12.
Cahyono, N. 2011.
“Transformasi Permainan Anak Indonesia”. Artikel. http://-permatanusantara.blogspot.com.
Diakses pada tanggal 25 Sepetember 2012.