Pragmatik sebagai cabang ilmu linguistik sebenarnya belum lama muncul, bahkan ada beberapa ahli linguistik yang memasukkan pragmatik ke dalam bidang ilmu semiotik. Morris (1995:50) menyatakan bahwa ilmu semiotik dibagi menjadi tiga bidang kajian, yatu sintaksis, semantik, dan pragmatik. Beberapa ahli semiotik mengkaji pragmatik sebagai sistem tanda, sedangkan beberapa ahli linguistik juga memasukkan pragmatik sebagai komponen kajian linguistik.
Semantik
dan pragmatik memiliki kesamaan dalam mengkaji makna, tapi keduanya berbeda.
Semantik meletakkan makna sebagai hubungan yang melibatkan dua segi (diadik)
dan pragmatik meletakkan makna sebagai hubungan yang melibatkan tiga segi
(triadik). Semantik mengkaji makna X (kata, frasa, klausa, dan kalmat),
sedangkan pragmatik mengkaji daya tuturan: apa yang dimaksud penutur dengan
mengatakan X.
Topik
yang dibahas dalam pragmatik menurut Gazdar (1979) adalah aspek makna tuturan
yang tak bisa diterapkan dengan referensi langsung ke kondisi-kondisi nyata
kalimat yang dituturkan. Arti yang diucapkan oleh penutur dapat diterima oleh
lawan tutur tergantung pada konteks. Sejalan dengan pendapat Gazdar, Heatherington
(1980) menyatakan bahwa pragmatik membahas tindak tutur dalam situasi khusus
dan memusatkan perhatian pada aneka ragam cara yang merupakan wadah aneka
konteks sosial, performansi bahasa dapat memengaruhi tafsiran dan interpretasi.
Performansi yang dimaksud di sini adalah pengaruh dari fonem suprasegmental,
dialek, register, dan keragaman konvensi sosial.
Contoh
kasus pragmatik adalah ketika seseorang berkata kepada ayahnya, “Besok pagi
batas terakhir pembayaran UKT, Pak.”
Kalimat
pemberitahuan tersebut tidak sekedar seorang penutur hanya menyampaikan batas
pembayaran UKT, tetapi lebih mengarah bahwa penutur tersebut meminta uang untuk
membayar UKT dengan segera, karena batasnya sudah mepet.
Contoh
lain. “Coba hitung ada berapa pemain dalam permainan bola voli?”
Kalimat
tersebut tidak menuntut seseorang untuk pergi ke lapangan voli dan mengitung
berapa pemain voli setiap tim di lapangan. Kalimat tersebut dapat bermanka
bahwa penutur ingin bertanya berapa pemain dalam permainan bola voli. Lawan
tutur pun tidak harus pergi ke lapangan, tetapi cukup mencari informasi melalui
gawai atau buku yang dapat dijasikan referensi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar