Kamis, 10 November 2022

Pragmatik yang Menarik

 Pragmatik sebagai cabang ilmu linguistik sebenarnya belum lama muncul, bahkan ada beberapa ahli linguistik yang memasukkan pragmatik ke dalam bidang ilmu semiotik. Morris (1995:50) menyatakan bahwa ilmu semiotik dibagi menjadi tiga bidang kajian, yatu sintaksis, semantik, dan pragmatik. Beberapa ahli semiotik mengkaji pragmatik sebagai sistem tanda, sedangkan beberapa ahli linguistik juga memasukkan pragmatik sebagai komponen kajian linguistik.

Semantik dan pragmatik memiliki kesamaan dalam mengkaji makna, tapi keduanya berbeda. Semantik meletakkan makna sebagai hubungan yang melibatkan dua segi (diadik) dan pragmatik meletakkan makna sebagai hubungan yang melibatkan tiga segi (triadik). Semantik mengkaji makna X (kata, frasa, klausa, dan kalmat), sedangkan pragmatik mengkaji daya tuturan: apa yang dimaksud penutur dengan mengatakan X.

Topik yang dibahas dalam pragmatik menurut Gazdar (1979) adalah aspek makna tuturan yang tak bisa diterapkan dengan referensi langsung ke kondisi-kondisi nyata kalimat yang dituturkan. Arti yang diucapkan oleh penutur dapat diterima oleh lawan tutur tergantung pada konteks. Sejalan dengan pendapat Gazdar, Heatherington (1980) menyatakan bahwa pragmatik membahas tindak tutur dalam situasi khusus dan memusatkan perhatian pada aneka ragam cara yang merupakan wadah aneka konteks sosial, performansi bahasa dapat memengaruhi tafsiran dan interpretasi. Performansi yang dimaksud di sini adalah pengaruh dari fonem suprasegmental, dialek, register, dan keragaman konvensi sosial.

Contoh kasus pragmatik adalah ketika seseorang berkata kepada ayahnya, “Besok pagi batas terakhir pembayaran UKT, Pak.”

Kalimat pemberitahuan tersebut tidak sekedar seorang penutur hanya menyampaikan batas pembayaran UKT, tetapi lebih mengarah bahwa penutur tersebut meminta uang untuk membayar UKT dengan segera, karena batasnya sudah mepet.

Contoh lain. “Coba hitung ada berapa pemain dalam permainan bola voli?”

Kalimat tersebut tidak menuntut seseorang untuk pergi ke lapangan voli dan mengitung berapa pemain voli setiap tim di lapangan. Kalimat tersebut dapat bermanka bahwa penutur ingin bertanya berapa pemain dalam permainan bola voli. Lawan tutur pun tidak harus pergi ke lapangan, tetapi cukup mencari informasi melalui gawai atau buku yang dapat dijasikan referensi.

Sumber

Yuliantoro, A. (2020). Analisis Pragmatik. Klaten: UNWIDHA Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar